Acara tersebut tidak selesai satu hari saja,Diawali pada hari kamis sore masyarakat sudah berkumpul di balai RW untuk melakukan pemotongan sapi, sebagai simbol pada jaman nenek moyang yang hanya makan sederhana dan di kesempatan Rejeban ini masyarakat bisa menikmati makan daging sapi.
Pasangan ancak lanang dan ancak wedok ini berangkat dari tiap dukuh dan diarak beramai-ramai oleh penduduk seluruh dukuh yang dipimpin kasun masing-masing menuju pendopo balai desa. Dalam arak-arakan ini biasanya juga diiringi dengan kesenian masing-masing, seperti gamelan, bantengan, cecaplok, macan-macanan, bedes-bedesan ataupun yang lainnya. Sesampainya di pendopo desa dimana para tokoh masyarakat juga berkumpul disana, diadakan do’a bersama, sebelum ancak-ancak tersebut dibagikan / diperebutkan oleh warga.










